Fish

Senin, 27 Agustus 2012

Ke Utara Kaltim


Pulang kampung.. Sama sekali nggak ada rencana untuk jalan-jalan, liburan atau apapun. Biar cuma di rumah aja, tapi rasanya udah senang. Tapi kalau nggak ada kegiatan itu rasanya bingung juga..
Samarinda, 11 Agustus 2012
Kemarin sama sekali nggak kepikiran kalau hari ini bakal ikut bapak ke ujung utara sana. Tiket aja nggak punya, baju belum disiapin. Bapak yang udah berangkat duluan, tiba-tiba telepon, “Heh, kamu mau ikut kah? Bapak tunggu di Cipaganti seberang sana..!!”. Cklek, tuuuut tuuut.
Nah, kalau udah diajak nggak mungkin nolak. Siapin baju seadanya, langsung berangkat. Dulu kalau Smd-Bpp rasanya lama banget, sekarang waktu 2,5 jam perjalanan itu kayak nggak berasa lagi. Nggak lama udah sampai di Sepinggan, nunggu pesawat terakhir menuju Tarakan. Ini pertama kalinya ke Tarakan. Paling jauh paling cuma sampai Bontang, 3 jam perjalanan. Itupun sudah bertahun-tahun yang lalu. Dikasih kesempatan ke utara, rasanya seneng banget.
Dari Balikpapan ke Tarakan naik pesawat cuma 55 menit aja. Penerbangan malam ternyata lebih menyenangkan. Suasana kota yang gemerlapan di malam hari terlihat jelas.
Nggak lama sampai juga di Bandara Juwata, Tarakan. Tarakan memang kota kecil, tapi tetap ramai dan lumayan menyenangkan. Sepanjang jalan orang-orang ramai pawai takbiran, padahal lebaran masih delapan hari lagi. Kembang api, petasan, marching band, arak-arakan rebana mengular di sepanjang jalan. Untung ada keluarga disini. Kakak sepupu yang menjemput dengan antusias menjelaskan sekilas tentang kota ini. “Enak bah di Tarakan. Mau ke bandara dekat Cuma 10 menit aja. Nggak usah jauh-jauh kayak di Samarinda tu. Makanan banyak, ikan besar-besar, dekat laut pula………….Nah, itu stadion, itu Kapolres, itu….”.
Itulah… Nah, iseng-iseng ke warung buat beli minum. Penasaran, barang-barang yang dijual disini buatan dalam negeri atau buatan negeri tetangga. Ternyata tabung gas ijo 3 kg masih ada. Justru tabung gas biru khas Pertamina yang nggak ada. Tapi ada tabung gas yang lain. Tabung baru pertama kali kulihat, mungkin seukuran 12 kg atau 16,5 kg berwarna hijau dan merah bertuliskan Petronas. Petronas berarti punya Malaysia. Nggak heran, disini barang impor ada dimana-mana. Kualitasnya memang lebih baik.
“Kak, kenapa masaknya pake tabung Petronas?  Yang tabung biru nggak ada kah?, tanyaku.
“Bagusan pake Petronas. Isinya pas terus nggak bocor. Mereka itu nggak main tipu-tipu.”
Nah, kalau sudah konsumen bicara, mau gimana lagi. Nggak cuma gas, makanan atau sebagainya yang diimpor. Baju Malaysia pun juga ada yang diimpor. Kalau pernah dengar yang namanya baju Roma, ya itulah. Jangan sampai tertipu dan akhirnya beli baju macam ini. Di kolom Koran Kaltara Raya (korannya udah ada, tapi propinsinya belum ada), ditulis kalau menjelang lebaran begini baju-baju Roma (Rombengan Malaysiaàbaju bekas yang diimpor dari Malaysia) mulai beredar luas. Kalau sudah begini, konsumen yang harus hati-hati. Biar baju bekas, zaman sekarang banyak cara untuk menyulap yang bekas jadi baru. Waspada aja..
Kebetulan suami kakak itu kerjanya polisi. Diceritakanlah susahnya dapat bensin disini. Pom bensin memang ada. Tapi coba saja beli bensin lewat dari jam 3 sore. Biasanya pom-pom udah pada tutup karena bensinnya udah habis. Kalau sudah begini, mau nggak mau harus beli di eceran dengan harga 7000/botol dan isinya kurang dari 1 liter. Berbeda banget, kalau di jawa banyak pom bensin yang on terus 24 jam. Disini nggak ada. Krisis minyak di ladang minyak. Klasik…
Diceritakan juga tentang kerusuhan yang sempat terjadi di Tarakan. Membaca di Koran dengan melihat secara langsung ternyata memang berbeda. Suami kakak saat itu sedang bertugas dan melihat sendiri bagaimana keadaannya. Ngilu juga saat mendengar ceritanya.
Istirahat semalam, besoknya (Minggu, 12 Agustus 2012) bangun pagi-pagi terus langsung ke Pelabuhan Tengkayu I. Mau nyebrang lagi ke Tanjung Selor. Kecamatan Tanjung Selor termasuk dalam wilayah Kabupaten Bulungan, kabupaten yang nantinya akan menjadi ibukota propinsi Kaltara (Kalimantan Utara). Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk menyeberang laut dengan speed boat dari Pelabuhan Tengkayu I di Tarakan menuju Pelabuhan Penumpang Kayan II di Tanjung Selor  dengan harga tiket 80rb. “Bunyu, Bunyu, Bunyu….Nunukan, Malinau, Tanjung, Tanjung, Tanjung…!!”, suasana pelabuhan udah macam di Kampung Melayu aja. Musim liburan gini pelabuhan memang ramai, apalagi orang-orang yang mau keluar pulau memang melewati pelabuhan ini.
Walaupun nantinya Bulungan bakal jadi ibukota propinsi, tapi kota ini masih terkesan sepi. Coba saja keluar sekitar jam 7 malam. Jalanan sekitar dermaga sudah nampak lengang. Menerobos lampu lalu lintas pun nggak masalah selama nggak ada polisi, karena memang jalanan sepi. Muter-muter Tanjung Selor, semakin ke ujung yang terlihat kebanyakan kebun-kebun dan hutan. Bibit-bibit sawit terkadang terlihat memagari jalan. Daerah transmigrasi juga ada, rumah-rumah kayu warga trans berjajar di sekitar kebun dan hutan. Tapi kalau soal makanan rasanya dimana-mana, entah Samarinda, Balikpapan, Jakarta, Tarakan, Bulungan, selalu ketemu yang namanya Warung Lamongan, Warung Lumajang, Warung Gresik, Warung Tulungagung, Warung Padang, warung ini, warung itu….. Makanan jawa dan Padang selalu ada dimana-mana.
Sehari di Tanjung Selor, besok paginya langsung menuju Dermaga Kayan III. Dari dermaga ini kita bisa menuju ke kecamatan-kecamatan lain yang ada di Kabupaten Bulungan, terutama ke kecamatan yang memang hanya bisa dilalui lewat sungai. Transportasi sungainya ada sepit dan taksi. Jangan bayangkan ada taksi mangkal di dermaga yang berupa sedan beroda empat, karena yang dimaksud taksi disini sebenarnya adalah sebuah kapal motor kayu. Masyarakat sini menyebutnya taksi. Sepit sendiri adalah sebuah kapal cepat yang menampung 5-7 orang. Sepit itu ibaratnya jetski yang berwujud kapal kecil. Muatan yang bisa ditampung sepit lebih kecil daripada taksi.
Nah, akhirnya memutuskan naik sepit supaya lebih cepat sampai. Tujuannya menuju Kecamatan Peso, kecamatan yang paling ujung. Perjalanan sekitar 4 sampai 5 jam. Kalau mau naik sepit perhatikan waktunya, karena tariff untuk pagi dan siang biasanya berbeda, biasanya tergantung kesepakatan antara penumpang dengan yang punya sepit. Kalau pagi biasanya lebih murah, kalau sepit mulai jarang biasanya tarifnya jadi berlipat-lipat. Apalagi kalau jaraknya jauh, musti pintar nawar. Pertama kali naik sepit itu rasanya sesuatu banget. Jadi ingat novelnya Tere Liye Aku, Kau, dan Sepucuk Angpao Merah nih..sepit Bang Borno. Hehehe :D   Jarak yang rendah antara sepit dengan permukaan air membuat kita bisa menyentuh air. Sepit dengan kecepatan tinggi langsung membelah permukaan Sungai Kayan. Tanganpun langsung menggenggam erat pegangan sepit, takut jatuh ke sungai. Aku ini sudah nggak bisa berenang, kalau sudah tercebur ke Sungai Kayan yang airnya coklat keruh dan luas ini, rasa-rasanya nanti bakal nggak ditemukan lagi. (--,)
Mengemudikan sepit ternyata nggak sembarangan. Walaupun melaju full speed, pengemudi harus lihai untuk menghindari gelombang dan batang kayu yang mengapung. Kalau sampai menabrak batang kayu, sepit ini bakal terbalik dan masuklah semua ke sungai. Rata-rata yang bawa sepit ini adalah laki-laki khas perawakan Suku Dayak. Ketangguhan orang Dayak mengarungi sungai yang bergiram-giram memang nggak diragukan. Seperti bapak yang bawa sepit kami sekarang ini. Ukiran tato di punggung tangannya seakan-akan semakin menegaskan. Tuas kemudi dimainkan dengan lihai untuk menghindari giram-giram dan pusaran air Sungai Kayan. Seringkali kalau ada perahu atau sepit lain yang melintas berlawanan arah, kami saling melambaikan tangan untuk sekedar menyapa. Perjalanan sepanjang Sungai Kayan ternyata menyenangkan juga. Kanan kiri tepian sungai adalah deretan hutan lebat. Sesekali ada juga desa-desa penduduk di tepian sungai ini. Desa-desa yang ada selalu memiliki dermaga kecil untuk menambat perahu dan di beberapa desa ada kios untuk mengisi bahan bakar. Perahu atau sepit yang kehabisan solar di tengah jalan bisa refill disini. Kios BBM ini hanya berbentuk bangunan rumah kayu terapung sederhana yang ditopang batang-batang kayu besar dan drum-drum bekas agar bisa tetap mengapung di atas sungai.
Sudah beberapa desa yang terlewati.. Desa Long Sam, Long Lembu, Long….., Long….., Long. Entah sudah berapa “Long” yang dilewati. Nama desa disini memang selalu berawalan kata Long. Sama saja dengan beberapa daerah disini yang selalu berawalan kata Loa. Loa Bakung, Loa Janan, Loa Duri…. Entah apa arti kata Long dan Loa itu sendiri.
Semakin menuju ke hulu, semakin jarang desa yang terlihat. Yang terlihat hanya deretan hutan di sepanjang tepian sungai atau terkadang terlihat aktivitas penggalian pasir dan penebangan pohon untuk diambil kayunya. Sesekali saat melewati tikungan sungai, terlihat tebing-tebing tinggi yang seolah memagari hutan. Semakin lama hanya hutan-hutan yang tampak dan semakin membuatku berpikir, “Inikah yang namanya pelosok?” . Hanya deru mesin motor sepit sekian PK ini yang terdengar. Waktu 5 jam perjalanan ini ternyata cukup untuk membuat punggung tanganku yang sedari tadi terus menyentuh permukaan sungai menjadi gelap karena terbakar matahari. Sementara perjalanan semakin mendekati arah hulu, sepit ini terus melaju full speed sambil terlompat-lompat karena melewati gelombang dan giram-giram yang semakin besar.
Nggak terasa waktu 5 jam terlewati dan akhirnya sampai di tujuan. Di Desa Long Bia, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan. Sebenarnya semakin ke hulu sana masih ada desa lain, tapi sudah tidak bisa ditempuh dengan sepit lagi. Semakin ke hulu, sungai menjadi semakin dangkal, pusaran semakin besar, dan giram-giram semakin ganas. Hanya bisa ditempuh dengan perahu kayu tradisional berbekal mesin motor beberapa PK. Bukan sembarang orang yang bisa mengendalikan perahu ini. Hanya orang-orang yang benar-benar berpengalaman. Tak jarang terdengar kabar perahu hancur karena menabrak giram dan penumpangnya tewas atau mesin motor rusak karena menghantam batu. Kalau mau melewati hulu, mungkin bisa dibilang harus siap nyawa. Kalau hanya sekedar untuk jalan-jalan atau main-main, lebih baik nggak usah pergi.
Desa Long Bia. Kupikir nggak bakal menemukan peradaban disini. Eh ternyata masih ada sinyal TV. Tower Telkomsel pun ternyata ada disini. Untung pakai Telkomsel. Hehe.. SD, SMP, SMA ternyata juga ada walaupun hanya bangunan sederhana. Rumah-rumah disini berupa rumah panggung kayu sederhana yang sesekali berukiran khas Kalimantan. Rumah paling bagus ya rumahnya Pak Camat, rumah beton yang dicat apik.
Ini bulan Ramadhan, yang kukhawatirkan adalah bagaimana menentukan arah kiblat, karena kupikir nggak ada masjid disini-karena muslim memang minoritas. Tapi ternyata Alhamdulillah, ada juga masjid. Sebuah masjid kayu yang berbentuk panggung, dan di sebelahnya ada lagi masjid beton yang baru dibangun dan megah. Awalnya aku bingung, di pelosok seperti ini ternyata ada masjid indah walaupun muslimnya minoritas. Entah bagaimana caranya, tapi ini sangat membuat kagum. Malam shalat Tarawih di masjid ini memang masih sepi. Satu saf paling depan pun tidak terisi penuh. Tapi suatu saat InsyaAllah satu masjid ini bakal penuh.
Malam-malam melewati sudut jalan di desa ini, itu seram. Lampu jalan hanya ada di beberapa sudut saja. Paling malas rasanya kalau harus lewat jalanan yang gelap. Anjing berkeliaran, kalau-kalau dikejar anjing mana tahu lagi. Kalau lewat jalan gelap, mata terus ke depan aja, nggak usah toleh kanan-kiri, bikin parno. Suara daun-daun yang bergesekan dan jangkrik di jalanan gelap bikin tambah seram aja.
Meskipun ada di tepi sungai dan di tengah hutan, tetap aja kalau siang hari panasnya nggak ketulungan. Cukuplah untuk menghitamkan kulit.
Cukuplah semalam tinggal di Long Bia. Besoknya langsung balik lagi ke Tanjung Selor. Sebelumnya sempat mampir  dulu ke Tanjung Palas. Teringat bapak cerita, kalau 30 tahun yang lalu SK pertamanya keluar untuk mengajar di Tanjung Palas. Padahal Tanjung Palas sekarang aja masih desa sekali. Bagaimana pula Tanjung Palas 30 tahun yang lalu..
Sempat di Tanjung Selor beberapa hari , kemudian balik lagi ke Tarakan. Akhirnya tanggal 17 Agustus 2012 mau balik lagi ke rumah. Balik ke rumah sudah macam Kabayan pulang kampung aja lagi. Bawaannya beras, bandeng, udang, ikan asin. Hehe. Yang khas dari sini memang biasanya hasil-hasil laut, karena wilayahnya memang dikelilingi laut. Ikan-ikan kualitas ekspor disini memang mantap. Selain hasil laut, beras asli sini pun nggak kalah bagusnya. Beras Krayan hasil para petani Dayak memang berkualitas tinggi dan gizinya baik. Beras jenis inilah yang diekspor ke Brunei Darussalam dan menjadi konsumsi di Kesultanan Brunei. Beras Krayan ini biasanya dihargai sekitar 25rb/kg. Memang agak mahal kalau dibandingkan dengan beras yang biasanya, tapi nggak ada salahnya dicoba.. Kata kakak, di Tarakan sendiri beras ini memang agak jarang dan biasanya ada pada saat pasar Dayak yang biasanya seminggu sekali.
Pengalaman kali ini mungkin adalah pengalaman yang biasa buat sebagian orang, tapi buat saya ini terlalu sayang untuk dilupakan. Semoga ada kesempatan lagi kesini.. ^____^